“This is Love”

28 Okt

cover-56

Lee’s

Cast : Lee Donghae

          Song Eun Ki

         And Other Cast

 Genre : G, Romance

Length : Oneshot

Disclaimer : Fanfict just my imagination ! DON’T COPAS DON’T BASHING

Maaf typo bertebaran dan tidak sesuai EYD …

Happy reading —>

*****

Donghae semakin mempercepat langkahnya saat hujan yang semulanya gerimis kini berangsur deras. Diujung jalan ia melihat sebuah halte bus yang terlihat beberapa orang berteduh disana.
Tepat saat Donghae tiba dihalte, hujan benar-benar mengguyur dengan deras.

30 menit berlalu saat hujan turun, Donghae masih duduk dibangku halte itu walaupun kini hujan mulai berhenti dan orang-orang disekelilingnya mulai meninggalkan tempat itu. Menyisakannya seorang diri.

“Ekkhhmm, permisi?” suara lembut membuyarkan lamunannya. Pria itu menoleh kesamping dan mendapati sorang gadis cantik berbalutkan kemeja putih dilapisi sweeter coklat muda dan mantel coklat tua sedang berdiri disampingnya dan terlihat seperti kebingungan.

Donghae mengerjapkan matanya berkali-kali, ia belum pernah melihat gadis secantik ini. Kulitnya yang putih bersih dan rambut yang diikat keatas semakin melengkapi kecantikkannya. Sungguh kejadian langka dalam seumur hidupnya.

Beberapa detik Donghae masih terpaku dengan pesona gadis itu dan mengabaikan ucapan gadis itu.

“Maaf?” ucap gadis itu lagi dan membuat Donghae tersadar.

“Ya?” sahut Donghae salah tingkah. Lupakan dengan pesona gadis itu, cukup. Kali ini Donghae harus tersadar kembali.

“Maaf, aku mau bertanya, apa kau melihat dompet berwarna biru tua jatuh disini?”

“Dompet?”

“Ya,” Donghae menggerakan kepalanya melihat kesekelilingnya, tanpa menunggu perintah dari siapapun Donghae dengan otomatis tanpa sadar membantu gadis itu mencari dompet yang dimaksud disekeliling halte, “Aku rasa jatuh saat aku berteduh disini tadi. Sudah berulang kali aku mencari, namun tidak menemukannya.”

“Aku rasa tidak ada disini-. Mungkin jatuh ditempat lain?” Donghae mencarinya namun juga tidak menemukannya. Gadis itu menghela nafas panjang. Terlihat sangat sedih.

“Begitukah? Hhh—kalau begitu saya permisi. Terima kasih.” Gadis itu membungkukkan badan lalu meninggalkan halte dengan wajah pucat dan sedih.

Donghae menghela nafas, terpaku melihat gadis itu pergi begitu saja. Betapa sayangnya ia belum sempat menanyakan nama gadis itu. Mungkin lain waktu. Batinnya menyesal.

“Sangat manis…” batinnya. Tak lama kemudian bus yang selalu ditumpanginya tiba dan Donghae segera masuk kedalam bus itu dan pergi meninggalkan halte.

Sedangkan tak jauh dari halte, gadis yang menghampiri Donghae tadi terlihat menghampiri mobil yang berhenti dipinggir jalan,“Apa kau menemukannya?” tanya seorang pria bertubuh tinggi yang keluar dari mobil.

“Tidak. Aku tidak menemukannya. Mungkin jatuh ditempat lain.” Ucap gadis itu lirih. Pria bertubuh tinggi tadi lalu mendekap gadis itu.

“Jangan sedih, aku akan membantu mencarinya. Ayo kita cari ketempat lain.” Gadis itu mengangguk lalu keduanya masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.

—–***—–

“Song Eun Ki imnida.” Ucap gadis berwajah manis didepan seorang pria yang tak lain adalah Donghae.

“Lee Donghae imnida.”

“Hmmm maaf, sudah menunggu lama.”

“Tidak apa-apa,” keduanya pun tersenyum, “Silahkan duduk Eun Ki-ssi,” Eun Ki mengangguk dan kemudian duduk dihadapan Donghae.

“Maaf, Donghae-ssi. Hhmm- ada keperluan apa tadi menghubungi ku dan maaf bagaimana bisa Donghae-ssi mendapatkan nom-“

“Ahhh.. itu. Sebelumnya saya meminta maaf atas kelancangan saya menghubungi mu Eun Ki-ssi. Waktu itu saat dihalte Eun Ki-ssi pernah kehilangan dompet biru tua dan waktu saya pulang dengan bus saya tidak sengaja melihat dompet itu didalam bus yang saya tumpangi. Waktu itu saya melihat dompet ini disamping kemudi sopir bus itu dan saya menanyakan pada sopir bus itu,” Jelas Donghae maksud tujuannya sambil menyerahkan dompet pada Eun Ki diakhir kalimat dan disambut senyuman lega dari gadis itu, “Dan untuk bagaimana saya bisa mendapatkan nomor telpon Eun Ki-ssi, waktu itu saya bingung harus menghubungi siapa dan maaf kalau saya membuka dompet itu dan menemukan kartu nama didalamnya dan aku rasa itu nomor telponmu lalu saya menelponmu. Maaf sekali lagi telah lancang membuka dom-“

“Terima kasih Donghae-ssi. Terima kasih banyak,” jeda gadis itu. Eun Ki sangat senang saat ini. Dompet kesayangannya telah kembali, “Aku telah mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukannya dan ternyata tertinggal dibus. Terima kasih banyak,” ucapnya antusias dengan wajah berbinar bahagia dan itu cukup membuat seorang Donghae terpaku terpesona dengan ekspresi wajah yang menurutnya sangat alami dan cantik. Donghae bersumpah tidak akan melupakan ekspresi itu se umur hidup- batinya.

Tanpa disadari Donghae pun ikut mengembangkan senyum manis,”Iya, sama-sama Eun Ki-ssi,”

Ddrrtt- ddrrtt

Ponsel hitam milik Eun Ki bergetar menandakan sebuah telpon,”Maaf Donghae-ssi,”

“Ya, tidak apa-apa angkat saja,” Eun Ki mengangkat telponnya dengan beranjak sedikit menjauh dari Donghae.

Beberapa menit kemudian Eun Ki kembali setelah mengakhiri sambungan teleponnya,”Ya, aku akan segera kesana,” Bipp

“Hhmm maaf Donghae-ssi, saya harus segera pergi ada beberapa hal yang harus saya kerjakan saat ini.”

“Oh begitu, ya tidak apa-apa Eun Ki-ssi,” Donghae bangkit dari duduknya.

“Maaf sekali lagi dan terimakasih sudah menemukan dompet saya. Hhmmm mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi.” Ucap Eun Ki.

“Ya. Baiklah.”

“Saya pergi dulu, sampai jumpa.” Eun Ki meninggalkan tempat itu dengan tergesa. Kakinya yang sangat jenjang membuatnya hanya membutuhkan beberapa langkah untuk keluar dari tempat itu dan menyisakan seorang Lee Donghae terpaku dengan ucapan terakhir gadis yang saat ini menyita perhatiaannya itu.

“Hhmmm mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi.”

Ucapan itu sangat membekas dibenak Donghae, “Apakah itu pertanda kita akan bertemu lagi Eun Ki-ssi. Semoga,” Donghae tersenyum kecil dan sesaat kemudian pergi dari tempat itu yang sebelumnya meninggalkan beberapa lembar uang diatas meja.

—–***—–

Sejak pertemuan yang tidak disengaja dan pertemuan singkat itu, kini Donghae dan Eun Ki kerap sekali saling bertemu. Mulai dari makan siang bersama, pergi bersama, sampai makan malam bersama. Dari intensnya mereka bertemu kini perasaan Donghae yang semula berawal dari mengagumi kini mulai tumbuh rasa lain, rasa yang banyak orang bilang dengan perasaan cinta. Ya, Donghae kini mulai mencintai gadis penyuka coklat itu. Song Eun Ki.

“Apa hari ini kau ada acara Donghae-ya?” ucap Eun Ki yang kini berada galeri foto milik Donghae. Donghae seorang Photografer handal yang sangat terkenal di Seoul.

“Kenapa? Apa kau akan mengajakku kencan?” canda Donghae yang membuat Eun Ki mengerutkan dahinya.

“Kau bercanda?” timpal Eun Ki yang mendapat kekehan Donghae yang kini sibuk memilih-milih foto dilaptopnya.

“Kalau kau sibuk, ya sudah aku pergi sendiri saja.” Eun Ki menyenderkan tubuhnya dengan melipat kedua tangannya didepan dada.

“Kenapa kau jadi marah Eun Ki-ya? Aku hanya bercanda,” Donghae bangkit dari tempatnya bekerja lalu beralih duduk disamping Eun Ki, ”Hari ini aku free, kau mau mengajakku kemana, sayang? Hmm..”

“YA! Berhentilah memanggilku seperti itu, kalau orang lain dengar mereka akan salah paham. Arra?”

Donghae maupun Eun Ki sudah saling kenal satu sama lain, sudah sangat tahu sifat masing-masing walaupun hanya 5 bulan mereka baru saling kenal. Hal itu tak perlu mereka ragukan lagi mengingat intensitas mereka bertemu sangat kerap dan didukung dengan jarak rumah apartement mereka berdekatan dan hobi mereka yang sama sampai melakukannya bersama-sama membuat mereka sangat dekat dalam 5 bulan ini.

Dan soal Donghae yang kerap kali memanggil ‘sayang’ pada Eun Ki hanya candaan Donghae yang keterusan saat Donghae meminta bantuan Eun Ki menjadi kekasih bohongannya untuk membuat seorang gadis teman semasa SMA yang selalu berharap Donghae menjadi kekasihnya sampai-sampai meneror pria itu berhenti mengganggunya.

Kejam, namun apa boleh buat itu yang hanya bisa Donghae lakukan agar gadis itu mencari laki-laki lain yang lebih baik darinya dan berhenti mengganggunya.

Donghae hanya tersenyum simpul dan dibuatnya gemas dengan ekspresi Eun Ki saat ini, “Aigoo, kau sangat lucu kalau lagi kesal.” Donghae mengusap puncak kepala Eun Ki dengan gemas dan kemudian beranjak berdiri berjalan mengambil ponselnya diatas meja, “Hyun-ah hari ini kosongkan jadwalku. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan dan itu sangat penting. Arra?” ucap Donghae dengan seseorang diseberang telepon setelah Donghae memencet beberapa digit nomor sebelumnya.

“Baiklah,” jawab Hyun Ji- orang yang dipanggil Donghae beberapa menit lalu. Dia sahabat sekaligus manajer pribadi Donghae. Shin Hyun Ji.

“Cha, aku sudah mengosongkan jadwalku hari ini. Jadi aku siap pergi denganmu kemana saja,” Donghae mengakhiri panggilannya dan tersenyum manis sekaligus mendapat respon manis dari Eun Ki.

“Terimakasih, sayang,” sahut Eun Ki seraya berjalan ke arah Donghae dan kemudian memeluk pria itu. Eun Ki terlewat senang sampai menggoda Donghae dengan memanggilnya ‘sayang’.

“Dasar, ck.” Donghae membalas pelukan Eun Ki dengan antusias.

—–***—–

“Eun Ki-ya!” panggil seorang gadis yang kini menghampiri Eun Ki dengan napan berisi makanan. Kini waktu sudah menunjukkan waktu istirahat makan siang. Eun Ki yang kini berada dikantin kantornya sedang menikmati makan siang dengan antusias. Bagaimana tidak, seharian ini tenaga Eun Ki terkuras habis setelah bekerja mengejar deadline yang sengaja dilakukan atasannya.

“Hyun Ae-ya,” balas Eun Ki dengan melambaikan sebelah tangannya dan memberi isyarat untuk teman kerjanya itu duduk bersama.

Hyun Ae duduk didepan Eun Ki dan sempat terkejut melihat porsi makan teman kerjanya itu, “Eun Ki-ya? Aku tahu kalau nafsu makanmu itu sangat banyak tapi baru kali ini aku melihatmu makan sangat banyak dari biasanya,” Eun Ki hanya menampilkan deretan gigi putih bersihnya menanggapi ucapan Hyun Ae.

“Aku sangat lapar Hyun-ah,”

“Arra arra, lanjutkan makanmu.” Hyun Ae memilih membiarkan Eun Ki menikmati makan siangnya dan mulai menikmati makanannya,”Selamat makan,” ucap mereka hampir bersamaan.

“Apa hari ini kau ada acara, Eun Ki-ya?” sela Hyun Ae dan Eun Ki sejenak menghentikan kegiatan makannya.

“Hhmmm ada apa Hyun Ae-ya? Hari ini aku ada janji pergi dengan Donghae,” dan seketika Hyun Ae mendengus kesal, “Maaf,”

“Arra. Lain kali saja.”

“Maaf,” ucap Eun Ki dengan senyum manisnya.

“Hhmm Eun Ki-ya..”

“Hmmm…”

“Bagaimana perasaanmu pada Donghae? Apa kau mencintainya?”

Uhuk…

“Ahhh maaf maaf, ini minum-“ Ucapan yang terlontar dari mulut Hyun Ae sontak membuat Eun Ki kaget dan terkejut sampai membuatnya memuntahkan sedikit makanannya.

“Hyun-ah? Kau bercanda atau apa tadi, ehh? Aku tidak mengerti maksudmu-“

“Ya. Aku serius tadi dan kenapa kau terkejut seperti itu kalau tidak mengerti maksudku? Kau ini-“ Eun Ki hanya terdiam. Entah apa yang harus dijawabnya, ia bahkan tidak tahu perasaannya sendiri saat ini, “Apa aku salah bertanya padamu?”

“Cepat selesaikan makanmu Hyun Ae-ya. Waktu istirahat sudah habis-“ Eun Ki mengalihkan pembicaraan Hyun Ae, ia tidak bisa membiarkan Hyun Ae terus bertanya seperti itu. Bisa runyam masalahnya jika temannya itu terus menanyakan hal yang ia pun tidak tahu harus berbuat apa dan membuatnya sedikit bingung itu.

Sudah ke tiga kalinya ini Hyun Ae bertanya soal itu dengan Eun Ki, namun tetap saja Eun Ki tidak memberi jawaban yang membuat Hyun Ae puas- lebih tepatnya Eun Ki tidak pernah memberi jawaban dan lebih senang mengalihkan perhatian Hyun Ae. Hal itu yang bisa dilakuukan Eun Ki. Dia bingung harus bagaimana lagi.

Dalam perjalanan Eun Ki masih memikirkan pertanyaan Hyun Ae tadi siang, “Bagaimana perasaanmu pada Donghae? Apa kau mencintainya?”

Benar saja Eun Ki selalu merasakan kenyamanan jika disamping Donghae. Tidak hanya itu saja, Donghae pria yang sukses membuat sedikit menyita perhatiannya. Pria yang selalu ada disaat keadaan apapun itu, yah walaupun baru mengenalnya 5 bulan ia merasa sangat dan sangat nyaman dengan perhatian dan kebaikkan Donghae. Senyum yang manis dan menawan, tatapan mata yang teduh dan pelukkan yang hangat sangat membuatnya tidak mau sedetikpun jauh darinya.

Membayangkan senyumnya yang menawan itu cukup membuatnya sering tersenyum sendiri tidak jelas, bahkan wanita diluar sana pun tak sanggup melihat senyumnya itu yang begitu menawan. Perlakuan terhadap wanita yang sangat baik pun tak luput dari perhatiannya, tidak hanya padanya saja. Donghae tidak pernah marah saat teman semasa SMA itu menerornya. Yaa, walaupun ia sempat merasa terganggu dan sedikit kesal, namun ia tidak pernah meluapkan dengan berlebihan sampai menyakiti perasaan wanita itu.

Banyak hal lagi yang tidak bisa Eun Ki ungkapkan yang terpenting yang dirasakannya saat ini nyaman saat Donghae bersamanya.

Eun Ki terus memikirkan hal itu dengan sesekali memejamkan matanya. Desiran hebat sempat muncul saat kalimat itu terngiang-ngiang, “Apa itu yang dinamakan cinta?” gumamnya yang membuat seorang pria disampingnya sedikit bingung.

“Kau kenapa Eun Ki-ya? Kau sakit? Apa perlu aku antar ke dokter?”

“Huh? Aa.. anniya Donghae-ya. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja,”

“Sejak tadi kau melamun, apa yang kau lamunkan?” Donghae- pria yang disamping Eun Ki itu sedikit khawatir dengan keadaan Eun Ki saat ini. Sejak ia menjemputnya dikantor sampai sampai saat ini, gadis itu hanya melamun dan sesekali menepuk kepalanya sepanjang jalan dan itu menyita perhatian Donghae yang sedang menyetir.

“Ti..tidak ada Donghae-ya. Perasaanmu saja mungkin, sejak tadi aku tidak melamun hanya-“

“Benarkah? Aku rasa tadi kau melam-“

“Kita sudah sampai Donghae-ya!” seru Eun Ki mengalihkan perhatian Donghae dan sukses membuat Donghae melupakan ucpannya.

Eun Ki keluar dari mobil dengan tergesa dan cepat pergi mendahului Donghae dibelakangnya dengan sesekali memukul-mukul dahinya pelan, “Aish, apa yang aku lakukan tadi. Bodoh bodoh,” Donghae hanya menggeleng bingung melihatnya.

—–***—–

“Eun Ki-ya kemari! Lihat ini,”

Eun Ki dan Donghae kini berada disebuah toko ice cream yang sangat terkenal di Seoul. Toko itu terlihat ramai pengunjung karena hari ini toko tersebut sedang meluncurkan rasa terbaru yang beda dari yang lainnya.

Donghae mendapat undangan khusus ketempat itu, pemilik toko itu adalah salah satu sahabat sekaligus rekan kerja Donghae. Toko itu sudah lama menggunakan jasa fotografer Donghae untuk mempromosikan produk mereka.

Sering sekali Donghae mendapat undangan khusus namun baru kali ini ia datang dan memenuhi undangan. Pria itu tidak terlalu suka dengan ice cream dan setelah dekat dengan Eun Ki dan  ingat kalau gadis itu sangat menyukai ice cream, jadilah ia datang dengan menagajak Eun Ki.

“Donghae-ya!” panggil seorang pria bertubuh tinggi dengan kaca mata bertengger manis diwajahnya datang mendekati Donghae yang sedang memilih beberapa rasa ice cream.

“Siwon-ah!” balas Donghae dan kedua nya saling berpelukkan khas seorang pria bertemu dengan temannya.

“Kau datang juga Donghae-ya. Sudah lama?” kini mereka duduk bersama.

“Ahh nde, baru saja sampai Siwon-ah,”

“Hhmmm di-dia?”

“Ahhh iya. Siwon-ah kenalkan dia Eun Ki dan Eun Ki-ya kenalkan ini Siwon pemilik toko ini,”

“Ahh ya, annyeonghaseo Song Eun Ki imnida,” Eun Ki berdiri memberi salam dan Siwon pun melakukan hal yang sama.

“Choi Siwon imnida. Senang bertemu denganmu,”

Eun Ki menikmati ice creamnya dengan senang hati, rasa chocolate bercampur vanilla dan juga blueberry. Namun berbeda dengan Donghae yang lebih senang menikmati milkshake rasa strawberry nya. Toko itu tidak hanya menjual ice cream tetapi banyak menu minuman dingin yang dapat dipesan.

Toko bernuansa biru dan putih itu membuat Eun Ki betah berlama-lama ditempat dengan aroma vanilla yang memenuhi setiap sudut itu.

“Kau menyukainya?”

“Ya? Ahh ya, sangat menyukainya,” jawab Eun Ki dengan senyum manisnya.

Donghae dibuatnya gemas, “Dasar kau ini, ck,” pria itu mengusap puncak kepala Eun Ki dan kemudian tangannya terulur mengusap sudut bibir gadis itu yang terlihat sisa ice cream. Eun Ki terdiam sejenak. Dan selanjutnya mereka saling tersenyum bersama.

Suasana kembali hening. Eun Ki masih menikmati ice creamnya dan Donghae lebih asik memerhatikan Eun Ki dengan seksama. Pria itu memperhatikan setiap gerak Eun Ki tampa terlewat sedikit pun, sesekali ia tersenyum manis. Entah ada magnet tersendiri jika berada didepan gadis itu, ada saja hal menarik yang sayang terlewatkan.

“Eun Ki-ya lihat kemari,”

10351302_1533156050274442_5366233876877364126_n.jpg
Donghae membidikkan kamera yang sempat dibawanya tadi untuk mengambil foto Eun Ki dengan ice cream ditangannya.

“Kau memotretku?” Donghae puas dengan hasil potretannya dan hanya menganggkat bahunya acuh.

“Sangat cantik…”gumam pria itu.

“Ya! Lee Donghae!”

—–***—–

“Hari ini aku harus pergi, aku tidak bisa menemanimu pergi.” Ucap Donghae sedikit menyesal. Eun Ki yang sedang bersamanya itu sedikit kesal mendengar ucapan Donghae.

“Tapi kau sudah berjanji tadi pagi Donghae-ya, kau akan menemaniku hari ini.”

“Aku tahu itu, tapi ini mendadak tadi Hyun Ji memberi kabar kalau aku harus datang. Apa tidak bisa ditunda besok? Besok aku janji akan menemanimu, bagaimana hmm?” Donghae kehabisan akal lagi. Apa yang harus dilakukannya saat ini, ia sudah terlanjur janji pada Eun Ki tapi harus pergi pada saat itu juga.

“Aku sudah terlanjur berjanji pada Hyun Ae dan juga Eunhyuk, mereka sudah meluangkan waktu untuk itu. Bagaimana aku harus membatalkannya?” Eun Ki sedikit sedih dan menahan tangisnya bercampur rasa kesal dengan sekuat tenaga.

“Kau bilang saja pada Hyun Ae kalau acaranya ditunda besok dan aku akan bicara dengan Eunhyuk. Eunhyuk akan mengerti, toh mereka bisa pergi bersama kalau kita batalkan,” Eun Ki meremas mantelnya yang sedikit kepanjangan itu seraya mengalihkan pandangannya kearah lain untuk menghilangkan genangan air yang sudah menumpuk dipelupuk mata yang kapan saja siap meluncur keluar kalau ia berkedip sekali saja saat ini.

“Kau mudah saja bilang pada Eunhyuk dan membatalkannya, tapi… bagiku itu tidak. Kau tahu kan Hyun Ae bagaimana dia sudah menyisihkan waktu untuk acara ini tapi tiba-tiba saja dibatalkan-“ Donghae menghampiri Eun Ki dan menggenggam tangan gadis itu.

“Maaf,”

Eun Ki tidak tahu harus berbuat apalagi, “Baiklah. Aku akan bicara dengan Hyun Ae. Semoga dia tidak akan marah padaku. Aku pergi.” Sedetik kemudian Eun Ki pergi tanpa memperdulikan Donghae yang kini terpaku ditempatnya. Donghae mengusap wajahnya lalu menghembuskan nafas kasar.

Donghae meraih ponselnya diatas meja dan memencet beberapa digit nomor lalu terhubung dengan seseorang diseberang sana, “Yeoboseo, Hyun Ae-ya?”

“Ya. Ada apa Donghae-ya?” jawab seseorang dari telpon Donghae.

Pria itu menunduk lesu, “Apa ini akan berhasil? Aku takut membuatnya sangat marah. Bagaimana? Apa aku-“

“Ya! Percayalah padaku. Eun Ki tidak akan marah, tenanglah aku yang akan mengurusnya. Arra?”

“Baiklah,”

—–***—–

Suasana sebuah coffee shop yang sangat terkenal dipenjuru Seoul saat ini sangat ramai. Beberapa orang terlihat duduk menikmati segelas coffee dan tidak sedikit pula beberapa orang pembeli membeli coffee kemudian pergi.

Tepat disudut ruangan yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk terlihat dua orang pria tampan yang taka sing dimata warga Seoul dan menjadi pusat perhatian saat ini dan tak lupa seorang gadis cantik diantara mereka. Lee Donghae, Lee Hyuk Jae, dan Shin Hyun Ae.

“Apa ini akan berhasil Hyun Ae-ya?” ucap Donghae memastikan hasil ‘perundingannya’ dengan kedua sahabatnya itu.

“Ya! Lee Donghae kau meragukan kita?”sahut pria yang terkenal dengan gummy smillenya- Lee Hyuk Jae yang lebih sering dipanggil Eunhyuk itu dan Hyun Ae pun hanya tersenyum kecil.

“Bukan..bukan itu maksudku. Hanya saja ini terlalu-“ 

Ddrrtt ddrrtt

Ponsel hitam milik Donghae bergetar dan segera ia melihat siapa yang menghubunginya, “Eun Ki-“ mereka bertiga secara spontan hamper bersamaan saling berpandangan, seperti saling berkomunikasi dengan pandangan mereka tanpa membuka mulut.

Mereka diam sejenak dan bipp. Panggilan terputus dan mereka pun bernafas lega.

Ddrrtt ddrrtt

Panggilan kedua dari Eun Ki.

“Angkatlah Donghae-ya,” putus Hyun Ae memberi saran.

—–***—–

“Surprise!!”

Eun Ki terperangah melihat semua dihadapannya, ia tak menyangka akan terjadi seperti ini. Hyun Ae, Eunhyuk, kedua orang tuanya sekaligus adiknya yang entah kapan pulang dari Jepang dan tiba-tiba saja disini, dan terlihat juga Hyun Ji manajer Donghae dan ternyata dia kakak sepupu Hyun Ae- tunggu Hyun Ji manajer Donghae ? kenapa dia bisa ada disini dan Donghae? Dia dimana tidak ada disini-

“Saengil chukkae hamnida, saengil chukkae hamnida, saranghaneun uri Eun Ki, saengil chukkae hamnida.” Terdengar suara yang tak asing lagi bagi Eun Ki dan sontak gadis itu menoleh kebelakangnya. Benar saja suara Donghae.

Eun Ki terkejut dibuatnya, Donghae datang dengan membawa kue tart rasa coklat dan diatasnya lilin berjalan ke arahnya dengan senyum yang sangat manis. Eun Ki diam terpana melihatnya, mata yang mulai berkaca-kaca dan ia mendekap erat mulutnya dengan kedua tangannya.

Suasana yang sangat indah dan romatis, balon berbentuk dimana-mana, cahaya lampu yang sengaja dipadamkan membuat cahaya lilin yang terletak dimana-mana disudut ruangan itu semakin menambah suasana tambah romantic. Bau harum bunga pun tak luput saat disetiap sudut ruangan dihiasi berbagai macam warna bunga mawar kesukaan Eun Ki, “Selamat ulang tahun Eun Ki-ya,” ucap Donghae tepat berdiri dihadapan Eun Ki.

Suasana hening sesaat. Hyun Ji, Hyun Ae, Eunhyuk, adik dan kedua orangtua Eun Ki sengaja berdiam diri menyaksikan kejadian indah nan romantis dihadapannya saat ini dan tidak mau merusaknya dengan suara sedikitpun.

“Selamat ulang tahun Song Eun Ki,” Eun Ki tersenyum manis dengan menatap lekat mata Donghae dan pria itu pun tak mau tertinggal melihat senyum manis itu. Ia membalas dengan senyum tak kalah manisnya.

“Tiup lilinya,” Eun Ki mengangguk sedikit dan kemudian beberapa saat meniup lilin yang sebelumnya ia memanjatkan doa harapan. Mereka berdua pun saling tersenyum dan beberapa detik kemudian Eun Ki menghambur kepelukkan Donghae.

Tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang sedang menyaksikan mereka berdua.

Acara itu pun berlangsung dengan baik, Eun Ki pun kini mulai membereskan beberapa barang disana. Rasa kantuk yang mendera beberapa orang disana pun tak berpengaruh pada Eun Ki dan seseorang yang kini duduk disofa memperhatikan setiap gerak Eun Ki.

Kali ini Hyun Ae dan beberapa orang terkecuali Hyun Ji- manajer Donghae memutuskan untuk menginap diapartement Eun Ki yang bisa dibilang agak besar itu. Kantuk yang sangat dan mengingat waktu sudah menunjukkan tengah malam akhirnya mereka tertidur.

“Kalau mengantuk tidur saja atau kau ingin pulang, pulanglah.” Sela Eun Ki sedikit mengecilkan suaranya agar tidak mengganggu.

“Aku tidak mengantuk dan aku tidak ingin pulang sebelum kau menjawab beberapa pertanyaanku,” Eun Ki menghentikan gerakkannya lalu menoleh kearah Donghae.

“Apa?” nada yang masih kesal terdengar disuara Eun Ki atas kejadian beberapa hari yang lalu. Donghae beranjak dari duduknya dan mendekati Eun Ki. Dikecupnya singkat bibir Eun Ki kemudian memegang kedua pundak gadis itu.

“Apa kau masih marah padaku?”

“Sedikit.”

“Aku minta maaf. Waktu itu adalah rencana ku dengan Hyun Ae-“

“Aku tahu itu,” Donghae terdiam sejenak. Menatap lekat manik mata Eun Ki, seolah mencari sesuatu yang tak bisa diungkapakannya.

“Cha, pulanglah aku sudah menjawab pertanyaanmu bukan?” Eun Ki mencoba melepaskan tangan Donghae yang memegang kedua bahunya namun tenaga Donghae masih lebih kuat darinya.

“Satu lagi. Ap.. apa kau mencintaiku?” Eun Ki terdiam, dalam hatinya ingin berteriak ‘IYA! Iya aku mencintaimu Lee Donghae’ namun entah kenapa ia sangat sulit mengungkapkannya. Sedikit rasa kesal membuatnya sedikit enggan mengucapkannya. Kesal yang masih terbawa atas kejadian beberapa hari yang lalu.

“Eun Ki-ya, jawab aku-“detik kemudian entah tanpa sadar atau apa, kini Eun Ki mendaratkan bibirnya dengan bibir Donghae. Menciumnya singkat.

Donghae terpaku saat ini, “Ka-kau,” ucapnya saat Eun Ki menyudahi ciumannya.

Gadis itu tertunduk, “Ya. Aku mencintaimu Donghae-ya.”

This Is Love

END

Jreng i’m comeback again. Semoga suka, dont forget kritik dan sarannya. Terimakasih *kiss*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: